Sunday, February 20, 2011

Berpikir seperti itu ...

Entah apa yang melatarbelakangi ide ini, yang jelas saya ingin berbagi tentang bagaimana mengenali arah atau pola berpikir anak yang terasa masih berhubungan erat dengan kegiatan harian saya.
"Sedang ada kesempatan" 
Oke lanjut. Sebagai ilustrasi ada 8 anak dan 2 teman saya dalam foto yang ada disisi kanan.  Kita ilustrasikan 3 dari 8 anak.

Dari ketiga anak yang sedang berpose dan bergurau tampaknya tak ada sesuatu yang berbeda. Mereka  anak umur belasan. Tapi tahu tidak seberapa sama dan seberapa beda pola pikir ketiga anak itu. Ambil contoh cara pandang mereka terhadap kamar mereka sendiri. Anak pertama memandang betapa penting rapi dan bersihnya sebuah kamar, jika tidak dalam kondisi rapi dan bersih sangat mengganggu kenyamanan perasaannya. Anak kedua tak begitu peduli dengan bersih dan rapinya kamar, mau bersih atau berantakan dia nyaman-nyaman saja. Anak ketiga justru lebih nyaman dengan keadaan yang “super amburadul”. Dia merasa dalam posisi asing bahkan tak bisa tidur bila harus berada di kamar yang rapi dan bersih.

Mengapa seperti itu? Yups, dalam dasar pikirannya sudah terbentuk secara kuat bahwa kamar yang ia temui dan aman untuk dinikmati ya seperti dasar pikiran mereka masing-masing. Karena secara evolusi yang ia temui seperti itu dan seperti itu. Layaknya seekor burung pipit akan tetap nyaman dalam sarangnya yang terbuat dari lilitan semak semak kecil dan ia akan tetap memilih itu walau dihadapanya diberikan sebuah sangkar manis dengan pengharum dan ber-AC. 


Kembali lagi pada ketiga anak diatas. Tak ada sesuatu yang istimewa dari contoh kasus perbedaan dasar berpikir terhadap nuansa sebuah kamar. Malah tak ada ancaman terhadap masyarakat dan negara dari ketiga perbedaan pola pandang ketiga anak tadi. Sehingga semuanya berjalan begitu indah tak terperhatikan. Tapi  lain soal bila mereka dihadapkan dengan  kasus-kasus lain yang sangat kompleks dan rumit.

Jadi seberapa sama dan bedakah ketiga anak tadi memandang dirinya dalam mengarungi perjalanan hidupnya.


Anak pertama selalu ingin menjadi yang terbaik, selalu ingin jadi pahlawan, selalu ingin setia dan ingin jadi tokoh baik dalam perjalanan hidupnya entah pada saat yang mana watak itu tertanam kuat dari ribuan cerita yang ia baca, ia dengar dan ia lihat dari buku, film ataupun alam. 

Anak kedua memandang perjalanan hidup ini hadapi saja mana yang mengenakan. Jika ada kesempatan untuk tidak baik, untuk tidak jadi pahlawan, untuk tidak setia kenapa tidak dicoba dan dinikmati saja dan entah pada saat yang mana watak itu tertanam kuat dari ribuan cerita yang ia baca, dengar dan lihat entah dari buku, film atau alam.

Anak ketiga justru selalu mencari cari kesempatan untuk tidak baik, untuk menjadi penjahat dan untuk berselingkuh sebab entah pada saat yang mana pula watak itu tertanam kuat dari ribuan cerita yang ia baca dan saksikan dari buku, film, dan kehidupan seperti di muka.
 

Fenomena yang unik, tapi untuk kasus ini ternyata berpotensi mengancam ketentraman masyarakat dan Negara. Terkadang menimbulkan keonaran dan persoalan besar. Tapi apabila sudah tertanam kuat dalam diri seseorang... tampaknya sulit !

Contoh ketiga anak tadi hanyalah gambaran dominasi watak sebab dalam hidup memang tak selamanya konstan, setiap orang  punya dominasi watak yang berlainan. Jadi betapa kita harus selalu mengawasi dan mengawal sumber apresiasi anak dan setidaknya mampu mengukur apa yang tertanam dan berpotensi menjadi daya dorong dalam perjalanan hidupnya sekarang dan ke depan.


Catatan : 
Selama ini kita telah hidup dari apresiasi terhadap alam yang kita temui sejak kecil. Dan sejujurnya “inilah watak” yang tertanam kuat pada diri kita masing-masing.

Janganlah menganggap sepele kebiasaan anak dalam permainan yang selalu ingin berperan jadi “penjahat” dan lainnya yang merupakan aktor antagonis. Sebab tak ada yang tahu persis dasar pikiran itu akan melekat kuat menjadi “hak paten” bagi dirinya. Bahan bacaan dan tontonan yang mungkin akan menjadikan kualitas “adukan” tinggi, sehingga menghasilkan pondasi watak yang cemerlang yang harus selalu dibangun bersama.

Maka apabila terasa ada yang bisa dibenahi mari benahi. Berikan selalu sumber untuk diapresiasi yang bernilai positif sambil terus membaca dan mengenali kemana arah pola pikir anak bergerak dan terbentuk. 


Terima kasih sudah membaca. 
Salam.

Sumber : INI

5 comments:

  1. Mengenali arah berpikir anak.... bener juga sih bos... pola berpikir itulah yang membentuk watak seseorang, disamping pengaruh2 lainnya :)
    Thanks

    ReplyDelete
  2. kan ada pribahasanya buah yang jatuh pasti gak jauh dari pohonnya, jadi wataknya pasti gak jauh dari kedua orang tuanya ^^

    ReplyDelete
  3. yupp...
    kadang kebiasaan anak sejak kecil itu menjadi wataknya ampe gede...

    ReplyDelete
  4. @ Serba Ter : Sama-sama kawan Serba Ter sudah menyempatkan waktu berkunjung disini. Salam
    @ hanya : Pepatah itu masih berlaku untuk beberapa waktu saja kawan hanya. Terima kasih sudah mampir disini. Salam kenal kawan.
    @ moenas : Silahkan kawan dengan senang hati. Salam
    @ ♥chika_rei♥ : Terima kasih chika sudah berkunjung lagi disini. Salam

    ReplyDelete

Salam...
Tuangkan komentar tuk saya,
Meski cuma satu kata...

Jangan meninggalkan spam...

Salam kawan

Klik kawan !