Sunday, July 17, 2011

Cerita pohon apel (Sebuah refleksi)

Salam

Akhirnya bisa kembali dan posting lagi... Kali ini saya mau berbagi cerita motivasi yang biasa saya sebut refleksi (ala saya). Sebuah cerita yang bagi saya pribadi sangat menyentuh hati dan juga memberikan pencerahan diri. Saya berharap cerita ini dapat tersebar luas dan menjadi rujukan bahan motivasi untuk siapa saja termasuk kawan2 blogger sekalian yang datang atau kebetulan mampir dan baca-baca disini...

Oke, langsung saja dibaca..


Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran diketeduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel.



Wajahnya tampak sedih.

“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi.” jawab anak lelaki itu.

“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.” Pohon apel itu menyahut,

“Duh, maaf aku pun tak punya uang… tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”


Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada dipohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi.


Pohon apel itu kembali sedih. Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang.
“Ayo bermain-main denganku lagi.” kata pohon apel.

“Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu.

“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”

“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu.” kata pohon apel.


Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi.

Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya.

“Ayo bermain-main lagi denganku.” kata pohon apel.

“Aku sedih,” kata anak lelaki itu.

“Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?”


“Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah.”


Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya, ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian.


“Maaf anakku,” kata pohon apel itu.

“Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu.”

“Tak apa.. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu.” Jawab anak lelaki itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat.” Kata pohon apel.

“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu.” jawab anak lelaki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini.” Kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

 
“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang.” kata anak lelaki.

“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”

“Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.


***
Dan kesimpulannya bahwa ada saatnya kita di posisi pohon apel dan ada saatnya kapan kita harus di posisi anak itu.

Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apapun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia.

* Mungkin bisa disebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak. Yang terpenting itu adalah cintailah orang tua kita.

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca.
Salam kawan

15 comments:

  1. Kebetulan aku udah baca cerita ini hampir 5 kali di blog yg beda2 hhe... :) emank cerita yg penuh inspirasi menurutku :) karena cerita ini mengingatkan kita untuk gak lupa diri :) makasih Sob udah di share... :)

    ReplyDelete
  2. aku sangat suka cerita ini sob,,, begitulah,,, kasih org tua sepanjang jalan,, kasih anak sepanjang gala,,,

    ReplyDelete
  3. @ Nyla Baker: Setuju dengan kawan Nyla Baker. Terima kasih sudah mampir lg disini kawan. Salam

    @ Ferdinand: Wadow.. Udah 5 kali ya.. Duh, ternyata udah byk jg ya sob yg share cerita ini.. Thanks kawan Ferdinand dah mampir disini.. Salam

    @ Nyayu Amibae: Yups.. Setuju dengan kawan Nyayu Amibae. Duh, akhirnya mau mampir disini lg.. Salam

    ReplyDelete
  4. bagus sekali ceritanya, merasuk dihati, orang tua memang membantu anak tanpa pmrih malah senang sekali....

    ReplyDelete
  5. hmmm, buatan kamu den?
    salut euy, keren.. pernah baca juga kayak gini, tapi ceritanya beda, cuman garis besarnya aja..
    nanti kapan2 aq copas ya... ^^

    Met berpuasa,

    ReplyDelete
  6. kasihan pohon apelnya :'(
    lelaki itu koq jahat banget sih? padahal kan pohon apel cuma ingin ditemenin aja.. :'(

    semoga kita tak jadi lelaki tak tahu balas budi seperti dia ya.

    ReplyDelete
  7. jalan2 sore ketempat sahabat.... mudah2an hari ini lebih menyenangkan...

    ReplyDelete
  8. Ceritanya bagus sob
    Selamat Menjalankan Ibadah Puasa

    ReplyDelete
  9. Marhaban ya Ramadhan
    Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
    Maaf Lahir Batin

    ReplyDelete
  10. Nice Post
    Selamat Menjalankan Ibadah Puasa

    ReplyDelete
  11. pencerahan yang menakjubkan, pakde sangat menyukai inspirasi ini, dima kita suatu waktu menjadi anak kecil itu, dan pada akhirnya kita akan menjadi pohon apel.

    ReplyDelete
  12. iya yah pohon apel itu seperti orang tua kita
    tp ak dr kecil udah jarang maen koq sm mereka hehe :p

    ReplyDelete
  13. jujur, bagus banget cerita ini
    aku baru menemukannya setelah hampir setahun dibuat

    ReplyDelete

Salam...
Tuangkan komentar tuk saya,
Meski cuma satu kata...

Jangan meninggalkan spam...

Salam kawan

Klik kawan !