Sunday, February 28, 2010

SINAR

Di awal bulan dan tahun baru 2010 ini saya jadi teringat dengan teman kuliah dulu. Kami sering bersama dalam moment moment tertentu. Darinya saya mengenal arti pentingnya membaca. Buku buku bacaan yang baik dan bermutu, malahan dia memiliki perpustakaan pribadi sendiri di dalam kamarnya. Walau saya tahu dia tak sehebat dengan apa yang saya kira tapi motivasi yang ditularkan kepada saya sudah mendarah sampai sekarang. Satu hal yang menarik adalah Ia lebih senang buku buku islami di banding  buku buku sastra atau buku buku umum lainnya. Karena buku islami sudah menjadi buku bacaan wajib baginya.

Tetapi sejak saya tahu tendensi dia ke arah buku buku islami saya usahakan pengaruhi dia dengan buku buku cerita cinta ala remaja atau dewasa. Dan ternyata memang tidak melulu tentang islam yang dia kuasai malahan kisah cinta dalam novel atau cerita pendek lumayan untuk dia ceritakan kepada saya. Sampai sampai kisah perjalanan cintanya kalaupun dia mau sudah menjadi buku sekarang.

Di Belakang Rumah
Nah, yang berbaju biru itu bang Inang saat berada di sawah bersama anak anak kecil daerah rumahnya. Gambar ini diambil sekitar tahun 2008 lalu.
Bertapa
Nama aslinya SINAR. Saya lebih senang memanggilnya bang Inang. Ia adalah salah satu teman dekat saya saat kuliah di UNINDRA PGRI. Kita sering sekali bertukar, mulai dari tugas kuliah, ilmu agama, sampai ke masalah pribadi masing masing. Ia termasuk orang baik dalam berteman, entah sudah berapa kebaikan yang dia tuangkan kepada saya dan teman temannya. Satu hal lagi yang saya tau dia orangnya agak pemalu untuk urusan cinta, namun terbuka untuk urusan lain terutama dalam bisnis atau berdagang.

Bersama Anak tetangga
Hasil Panen
Metik Hasil Panen
Abi muhammad sinar al-batawie, begitu dia memberikan nama baru itu ke saya. Dia memang orang betawi asli pondok gede. Saya nggak mengira kalo keluarganya masih memilki sebidang sawah di daerah Jakarta yang terkenal dengan banyaknya hunian, ruko ruko, dan kontrakan. Yang jelas di daerah saya yang namanya sawah hanya bisa saya lihat saat saya masih duduk di tingkat menengah pertama. Tapi sekarang sawah sawah itu sudah berubah menjadi rumah rumah hunian dan kontrakan.


Bang inang sangat royal, saya salut untuk itu. Baginya uang dapat dicari tetapi persahabatan belum tentu. Setiap kali ada acara atau kita habis jalan jalan, pasti dia lebih senang mengeluarkan uangnya untuk sekedar membeli minuman atau makanan ringan. Saya yang sudah terlanjur tahu malah menikmati, dan sejujurnya saya memang kurang uang untuk urusan seperti ini. Sifat royalnya itu yang masih melekat dalam ingatan saya sampai sekarang.

Lihat Cacing Kawin
Saya tahu betul ia bukan termasuk keluarga yang berada, ia termasuk keluarga sederhana namun sifat baiknya itu dalam urusan uang sangat royal yang membuat saya nyaman berteman dengannya (saya tidak berpikir untuk memanfaatkannya loh).


Di belakang Sinar

Kedekatan kami tak bertahan lama, mungkin itu dikarenakan ia sudah mulai bekerja sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Jakarta. Begitupun saya yang sudah mulai menyusun skripsi dan yang jelas saya pun sudah mempunyai pacar dan lebih sering bersama pacar tentunya. Mulai dari situ kami berdua sudah hampir tak berkabar ria lagi. Sampai sampai untuk wisuda atau lulus kuliah pun saya lebih dulu dibanding dia.


Bersambung....

3 comments:

  1. weitz...bang sinar,where are you now?

    ReplyDelete
  2. Bang inang masih ada cuma intensitas dan frekuensi untuk ketemu'y dah gak segampang dulu...

    ReplyDelete
  3. walaupun perjumpaan kita tak seperti dlu, aku harap harmonisasi persahabatan kita ttp terjalin indah bak harumnya melati.......

    ReplyDelete

Salam...
Tuangkan komentar tuk saya,
Meski cuma satu kata...

Jangan meninggalkan spam...

Salam kawan

Klik kawan !