Wednesday, September 15, 2010

Antara lebaran dan handphone itu...

Wuih, ternyata hari kemenangan di bulan ramadhan itu memang menyenangkan bagi mereka yang sudah berjuang melawan hawa nafsu selama satu bulan lamanya. Menahan lapar dan dahaga, menjaga ucapan dan tingkah laku. Hingga saatnya tiba yaitu hari kemenangan yang telah dijanjikan membawa mereka yang menjalankan puasa di bulan ramadhan menyambut gembira. Kemenangan itu adalah Lebaran.


Tulisan dibawah ini membawa pesan tersendiri untuk lebaran.

Salah satu kegiatan Lebaran yang mustahil diabaikan adalah membalas dan mengirim SMS Lebaran. Luar biasa peran SMS ini dalam menyiapkan paket lebaran yang praktis, efisien dan murah.

Begitu praktisnya hingga sekian silaturahmi hanya butuh sekian pencetan. Begitu efisien karena hanya dengan mengetik satu ucapan kita bisa menduplikasi sebanyak yang kita suka. Begitu murah karena hanya cukup dengan ratusan perak, kita bisa menjangkau seseorang yang malah sedang pergi ke lain benua. ‘’Saya sedang di Roma,’’ balas seorang teman cuma dalam hitungan menit.

Tapi begitulah galibnya sebuah berkah, ia sekaligus juga menggandeng musibah. Karena begitu praktisnya sehingga yang praktis itu malah demikian menyita kegiatan kita. Karena praktis, gampanglah kita melakukannya. Karena gampang, seringlah kita melakukannya. Karena sering jadilah kita selalu melakukannya. Karena selalu, jadilah waktu kita habis untuk melakukannya.

Maka tak aneh, jika sudah jauh-jauh kita mudik, sudah capek kita muter menemui kerabat dan saudara, tapi setelah ketemu, kerjaan kita cuma memencet-mencet keypad handphone belaka. Suami mencet, anak-anak mencet, istri mencet, maka lupalah kita pada saudara jauh yang tengah berada di depan mata. Tapi ooo, saudara itu pun manusia biasa seperti kita. Jika kita ber-handphone, mereka punya juga. Jika kita mencet, mereka mencet juga. Jadi, susah-susah kita saling ketemu, akhirnya cuma saling menghabiskan waktu untuk saling pencet bagi seseorang yang jauh dan tidak sedang di depan kita. Inilah paradoks handphone itu, ia mendekatkan orang jauh dan menjauhkan orang dekat.

Karena begitu murah SMS ini maka begitu gampang kita mengirim dan membalasnya. Karena gampang jadi sering, karena sering jadi selalu. Karena selalu jadi mahal. Karena mahal boroslah hidup kita hanya karena tipuan sang murah itu. Malah begitu murahnya SMS ini, sehingga ia bisa menghasut penonton seantero negara untuk mengirim dukungan pada pemenang lomba. Maka SMS yang murah ini sanggup mendatangkan keuntungan yang besoaaaaar sekali jumlahnya. Hebatnya, kita yang keluar biaya, para pemenang lomba itu pula yang mendapat hadiahnya. Jadi karena jebakan kesan hemat, hidup kita malah menjadi boros. Karena jebakan murah, hidup kita menjadi mahal.

Begitu efektif SMS ini sebagai ganti silaturahmi. Begitu efektifnya sehingga berlaku rumus satu ucapan untuk semua. Satume, satu ucapan rame-rame. Maka ucapan yang sampai ke saya adalah juga ucapan yang sampai ke Anda. Anda dan saya sama saja. Yang saya pun menjadi kita. Dan di dalam kita, unsur saya menjadi tak penting lagi. Maka ketika kita menerima ucapan generik semacam ini, ada perasaan bahwa kita cuma sebagai kita, bukan saya. Kita hanya menjadi elemen dari yang banyak. Tidak ada yang khusus dari kita.

Maka setiap kali kita mendengar dering SMS di handphone kita, kita tidak tegang lagi. Ah paling begitu-begitu juga. Kita tersanjung atas kiriman SMS dari para sahabat, kerabat dan saudara itu. Kita mencintai mereka dan mereka pun pasti mencintai kita. Tapi sebagaimana layaknya orang yang mencintai, ia menolak untuk dimadu. Jika ucapan yang saya terima adalah juga ucapan dikirim ke banyak manusia, apa boleh buat, saya terpaksa merasakan dilema perasaan itu: bahagia karena dicintai sekaligus sedih karena dimadu.

Maka ketika di antara berondonggan SMS itu masih terselip ada nama kita di dalamnya, ada SMS yang ditulis khusus untuk kita, ia akan segera menjadi SMS yang berbeda. Ia dekat, khusus, dekat dan penuh cinta. Ia sungguh SMS yang menggoda kita untuk segera membalas dengan kekhususan pula. Maka jika engkau mencintai saudaramu, kenapa engkau tak menggenapi cintamu dengan mengetik namanya dalam teleponmu. Karena hanya dengan menambahkan nama yang tak seberapa itu, engkau akan mendapatkan cinta saudaramu dengan kualitas yang tak pernah engkau duga sebelumnya.

Sumber: INI

0 Komentar kawan kawan:

Post a Comment

Salam...
Tuangkan komentar tuk saya,
Meski cuma satu kata...

Jangan meninggalkan spam...

Salam kawan

Klik kawan !